BAB 1
PENDAHULUAN
Hubungan Pacaran Jarak Jauh (Long distance Relationship)Adalahsuatu hubungan di mana kesempatan untuk berkomunikasi sangatlah terbatas
yang dimaknai oleh individual masing-masing yang disebabkan oleh kondisi
geografis tetapi individu di dalamnya mempunyai keinginan untuk menjalankan
hubungan dekat yang terus continue.
Media merupakan kata yang berasal dari Bahasa latin yang adalah bentuk
jamak dari medium. Namun secara harfiah media dapat diartikan sebagai perantara
atau pengantar. Secara umum media berarti sesuatu yang mampu mengantarkan
informasi atau pesan dari sumber pesan atau informasi kepada si penerima pesan.(http://komunikasi.us/index.php/course/perkembangan-teknologi-komunikasi/1217-2014-04-27-06-53-50)
New media merupakan
media yang dapat meningkatkan interaksi sosial antar manusia contohnya melalui
beberapa jejaring sosial namun tetap sesuai kaidah dan norma kesopan santunan
Media baru yang saat ini sedang populer adalah handphone atau smartphone.
Zaman sekarang,
bagi sebagian besar masyarakat handphone adalah suatu kebutuhan yang sangat
penting bahkan sangat diperlukan. karena semakin berkembangnya teknologi
handphone tidak hanya digunakan untuk media komunikasi saja seperti sms atau
telpon saja. Sekarang banyak handphone yang menyediakan fitur-fitur untuk
browsing,chatting dan lain-lain. New Media merupakan perkembangan baru dari
media-media yang telah digunakan manusia. Karakternya yang merupakan bentuk
digital tentu memudahkan dalam bertukar informasi dan berbagai kegiatan lainnya.(http://www.it-jurnal.com/2015/04/definisi-dan-manfaat-new-media.html)
Social media (media
sosial) merupakan media online yang sangat populer saat ini. Salah satu bentuk
hubungan yang menggunakan media komunikasi sosial sebagai media komunikasinya
adalah pacaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ketiga.2002:807) Pacar
adalah kekasih atau orang yang dicintai atau orang yang dikasihi (Kamisa,
1997). Pacaran adalah hubungan pertemanan antar lawan jenis yang diwarnai
keintiman. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan
sebagai pacar (Mulamawitri, 2003).
Melalui pola
komunikasi sosial lewat media, setiap orang yang terlibat di dalamnya merasa
sudah saling mengenal.Kedekatan itu seringkali hanya dibangun melaluibahasa
verbal tertulis yang intens.selain sebagai tempat mencurahkan isi hati juga
menjadi sarana pengembangan hubungan dalam menjalin relasi yang lebih intim.
Komunikasi antarpribadi yang sebelumnya merupakan komunikasi tatap muka secara
langsung, kini dapat dimediasi oleh alat, sehingga seseorang tidak harus selalu
bertatap muka dengan lawan bicaranya pada saat berkomunikasi. “Keadaan dimana
segala bentuk komunikasi dan perilaku manusia dapat diubah dengan cara saling
bertukar informasi melalui ini disebut Computer Mediated Communication (CMC)”
(Wood, 2005: 227).
1.2. Rumusan Masalah
Hadirnya media baru telah
membangkitkan kebutuhan dasar manusia untuk dapat bersosialisasi dan terhubung
dengan orang-orang terkasih tanpa di batasi ruang dan waktu. Berdasarkan latar
belakang masalah di atas, maka peneliti ingin mengetahui bagaimana self
disclosure yang diungkapkan pasangan mahasiswa/i, di mana dalam hal ini
peneliti memfokuskan penelitian terhadap mahasiswa/i yang sedang menjalin
hubungan pacaran jarak jauh ataupun pernah menjalin hubungan pacaran jarak jauh
dan menggunakan media komunikasi sebagai perangkat komunikasinya. Dan
Bagaimanakah self disclosure (pengungkapan diri) pacaran jarak jauh melalui
media komunikasi Pada Mahasiswa/i di Jurusan ilmu komunikasi FDK UIN Alauddin?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori-teori
1. Komunikasi
Carl I. Hovland (Mulyana,
2007:68) mendefinisikan komunikasi adalahproses yang memungkinkan seseorang
(komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambangverbal) untuk mengubah
prilaku orang lain (komunikate). Sebuah defenisi yang dibuat oleh kelompok
sarjana komunikasi (Book, 1980) yang mengkhususkan diri pada studi komunikasi
antar manusia (human communication) bahwa: “Komunikasi adalah suatu transaksi,
proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (1)
membangun hubungan antar sesama manusia; (2) melalui pertukaran informasi; (3)
untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain; serta (4) berusaha mengubah
sikap dan tingkah laku (Cangara, 2007:19).
Untuk memahami pengertian
komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif, para peminat komunikasi
sering mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold D. Lasswell dalam
karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell
mengatakan bahwa cara yang baikuntuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab
pertanyaan “Siapa yangmenyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa,
kepada siapa dan apapengaruhnya”.Paradigma Lasswel di atas menunjukkan bahwa
komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan
itu, yakni :
1. Komunikator (communicator, sender, source)
2. Pesan (message)
3. Media (channel, media)
4. Komunikan (communicant, communicate, receiver, recipient)
5. Efek (effect, impact, influence)
Berdasarkan paradigma Lasswell
tersebut, komunikasi adalah prosespenyampaian pesan oleh komunikator kepada
komunikan melalui media yangmenimbulkan efek tertentu (Effendy, 2007:10).
2. Komunikasi Interpersonal
Komunikasi Interpersonal adalah interaksi orang ke orang, dua arah,
verbal dan non verbal. Saling berbagi informasi dan perasaan antara individu
dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil (Febrina, 2008). terjadinya
suatu proses komunikasi. Dia yang harus mengetahui lebih awal tentang kesiapan
dirinya, pesan yang ingin disampaikan, media yang digunakan, hambatan yang
mungkin ditemui, serta khalayak yang akan menerima pesan (Cangara, 2007:85).
Hal tersebut hanya akan tercapai dengan cara membuka diri.Membuka diri berarti
mengkomunikasikan informasi tentang diri sendiri kepada orang lain (Devito,
2010:65). Salah satu model inovatif untuk memahami tingkat kesadaran dan
penyingkapan diri dalam komunikasi insani adalah Jendela Johari oleh Joseph
Luft (1969) yang menekankan bahwa setiap orang bisa mengetahui dan tidak
mengetahui tentang dirinya, maupun orang lain. Untuk hal seperti itu dapat
dikelompokkan ke dalam empat macam bidang pengenalan yang ditunjukkan dalam
suatu gambar yang disebut dengan jendela johari (Johari Window).
Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah
penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau
sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk
memberikan umpan balik segera (Effendy,2003, p. 30).
3. Self Disclosure (pengungkapan diri)
Komunikasi yang dilakukan tanpa
mengena sasaran, maka yang akan disalahkan adalah komunikatornya. Komunikator
adalah pengambil inisatif
Dalam suatu interaksi antara
individu dengan orang lain, apakah orang lain akan menerima atau menolak,
bagaimana mereka ingin orang lain mengetahui tentang mereka akan ditentukan
oleh bagaimana individu dalam mengungkapkan dirinya. Pengungkapan diri (self-disclosure)
adalah proses menghadirkan diri yang diwujudkan dalam kegiatan membagi perasaan
dan informasi dengan orang lain (Wrightsman, 1987).
terjadinya suatu proses
komunikasi. Dia yang harus mengetahui lebih awal tentang kesiapan dirinya,
pesan yang ingin disampaikan, media yang digunakan, hambatan yang mungkin
ditemui, serta khalayak yang akan menerima pesan (Cangara, 2007:85). Hal
tersebut hanya akan tercapai dengan cara membuka diri.
Membuka diri berarti
mengkomunikasikan informasi tentang diri sendiri kepada orang lain (Devito,
2010:65). Salah satu model inovatif untuk memahami tingkat kesadaran dan
penyingkapan diri dalam komunikasi insani adalah Jendela Johari oleh Joseph
Luft (1969) yang menekankan bahwa setiap orang bisa mengetahui dan tidak
mengetahui tentang dirinya, maupun orang lain. Untuk hal seperti itu dapat
dikelompokkan ke dalam empat macam bidang pengenalan yang ditunjukkan dalam
suatu gambar yang disebut dengan jendela johari (Johari Window).
Di ketahui diri sendiri Tidak diketahui diri sendiri
Tidak diketahui orang lain
Asumsi Johari bahwa
kalau setiap individu bisa memahami diri sendiri maka dia bisa mengendalikan
sikap dan tingkah lakunya di saat berhubungan dengan orang lain.
Kuadran 1,
melukiskan suatu kondisi dimana antara seorang dengan yang lain mengembangkan
suatu hubungan terbuka sehingga dua pihak saling mengetahui masalah tentang
hubungan mereka.
Kuadran 2,
melukiskan bidang buta, masalah hubungan antara kedua pihak hanya diketahui
orang lain namun tidak diketahui oleh diri sendiri.
Kuadran 3, disebut
bidang tersembunyi, yakni masalah hubungan antara kedua pihak diketahui diri
sendiri namun tidak diketahui orang lain.
Kuadran 4, bidang
tidak dikenal, dimana kedua pihak sama-sama tidak mengetahui masalah hubungan
di antara mereka.
Ada berbagai
keuntungan dalam melakukan sel-disclosure. Keuntungan dari
Self-Disclosureadalah:
1. Pemahaman
tentang diri, salah satu keuntungan dari self-disclosure adalah mendapatkan
perspektif yang baru tentang diri, sebuah pemahaman yang dalam tentang diri.
2. Komunikasi dan
Hubungan yang efektif, memahami pesan orang lain secara lebih luas dapat
melebarkan pemahaman tentang orang lain, self-disclosure adalah suatu keadaan
untuk saling memahami.
3. Kesehatan
Psikologi, dengan melakukan self-disclosureberarti belajar bagaimana berbagi
informasi dengan orang lain tentang berbagai permasalahan dan bagaimana untuk
mengatasi masalah tersebut (Devito, 2007:68).
4. Teori Penetrasi
Sosial
Teori penetrasi
sosial secara umum membahas tentang bagaimana proses komunikasi interpersonal.
Di sini dijelaskan bagaimana dalam proses berhubungan dengan orang lain,
terjadi berbagai proses gradual, di mana terjadi semacam proses adaptasi di
antara keduanya, atau dalam bahasa Altman dan Taylor: penetrasi sosial.
Altman
dan Taylor (1973) membahas tentang bagaimana perkembangan kedekatan dalam suatu
hubungan. Menurut mereka, pada dasarnya kita akan mampu untuk berdekatan dengan
seseorang yang lain sejauh kita mampu melalui proses “gradual and orderly
fashion from superficial to intimate levels of exchange as a function of both
immediate and forecast outcomes.”
Menurut
Altman dan Taylor (dalam Liliweri, 1991: 55) teori penetrasi sosial adalah
teori yang menyatakan bahwa hubungan antarpribadi telah terjadi suatu
penyusupan sosial. Ketika kita baru berkenalan dengan orang lain untuk pertama
kalinya maka sebenarnya kita mulai dengan suatu ketidakakraban, kemudian dalam
proses yang terus menerus berubah menjadi lebih akrab sehingga pengembangan
hubungan mulai terjadi. Dari sinilah setiap orang mulai menghitung apa yang
bisa diterima atas keuntungan apa yang akan diperoleh.
Muhammad
idrus dalam buku Metode Penelitian Ilmu Sosial (2007) mengemukakan bahwa,
kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifkasikan sebaga masalah
penting. Kerangka berfikir penelitian ditunjukkan pada gambar berikut:
![]() |
||||||
![]() |
||||||
| Add caption |
III. METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Perubahan
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif-deskriptifdimana peneliti akan memberikan pemaparan atau
gambaran umum mengenai bagaimana self
disclosure yang terjadi pada romance online, yaitu komunikasi antarpribadi
sebuah pasangan melalui media komunikasi.
3.2 Objek dan Lokasi Penelitian
Objek
penelitian dalam penelitian ini adalah self disclosure yang diungkapkan melalui
media komunikasi.
Lokasi
penelitian dalam penelitian ini adalah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN
Alauddin Makassar.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Ada
dua tahap pengumpulan data dalam penelitian ini, diantaranya adalah :
1. In depth Interview (Wawancara
mendalam)
Yaitu
teknik pengumpulan data dengan melakukan percakapan/perbincangan secara
mendalam dengan responden. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi sedalam
- dalamnya dan informan sebagai objek yang diwawancarai dan tentu saja informan
yang sebagai subjek penelitian haruslah yang menguasai masalah
penelitian/kejadian.
2. Observasi (pengamatan)
Melakukan
pengamatan pada saat kejadian, tingkah laku informan, tindakan tindakan orang
serta komunikasi yang terjadi.
3.4 Teknik Analisis Data
Dalam
penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan
triangulasi data dan teori. Kemudian dengan menggunakan teknik analisis data
selama di lapangan.
model
Miles and Huberman, peneliti menganalisis data dengan langkah-langkah sebagai
berikut (Idrus,2007):
1.
Peneliti melakukan reduksi data.
2.
Melakukan penyajian data.
3.
Penarikan kesimpulan dan verifikasi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Peneliti
memulai pencarian informan di kalangan teman terdekat peneliti yang menjalani pacaran jarak jauh
(LDR). Dalam penelitian ini, informan yang berperan sebagai subjek penelitian,
terdiri dari dua orang perempuan dan dua orang laki-laki. Informan adalah
mahasiswa dan mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi FDK UIN Alauddin. Berikut data
hasil wawancara peneliti dengan keempat informan:
4.1.1 Tabel Profil Informan
No
|
Keterangan
|
M.I
|
F.A
|
U.M
|
A.R
|
1
|
Tempat tanggal lahir
|
Makassar, 22 Februari 1995
|
Pinrang, 5 September 1994
|
Takalar, 12 Juli 1995
|
Palopo, 18 Desember 1995
|
2
|
Jenis kelamin
|
Laki-laki
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Perempuan
|
3
|
Pekerjaan orang tua
|
Ayah : Pegawai negeri sipil
Ibu : Ibu rumah tangga
|
Ayah : Pegawai negeri sipil
Ibu : Pekerja swasta
|
Ayah : Pegawai negeri sipil
Ibu : Ibu rumah tangga
|
Ayah : Pekerja swasta
Ibu : pekerja swasta
|
4
|
Alamat
|
Jl. Rajawali no.54 B
|
Jl. Sultan alauddin gowa
|
BTN. Minasa Upa blok M no 21
|
Jl. Talasalapang no 22
|
5
|
Awal mengenal media komunikasi social
|
2007
|
2007
|
7008
|
2009
|
6
|
Agama
|
Islam
|
Islam
|
Islam
|
Islam
|
4.1.2 Tabel Self
Disclosure (Pengungkapan diri) Individu Terhadap Pasangan Melalui Media
Komunikasi
No
|
Keterangan
|
M.I
|
F.A
|
U.M
|
A.R
|
1
|
Pengungkapan pada awal perkenalan
|
identitas diri, hobi, dan kegiatan sehari-hari
|
Tidak
mengungkapkan hal-hal umum.
|
identitas diri, hobi, dan kegiatan sehari-hari
|
identitas diri, hobi, dan kegiatan sehari-hari
|
2
|
Topik self
disclosure
|
Masalah keluarga, kebiasaan buruk
|
Masalah keluarga, pandangan hidup
|
Masalah keluarga, pandangan hidup, kebiasaan buruk dan kepercayaan
|
Masalah keluarga, pengalaman masa lalu.
|
3
|
Tahapan-tahapan pengungkapan diri
|
Terjadi secara alami dan spontan
|
Terjadi secara alami dan spontan
|
Terjadi secara alami dan spontan
|
Terjadi secara alami dan spontan
|
4
|
Individu yang dominan
|
Pasangan
|
Pasangan
|
Informan dan
pasangan
|
Informan dan pasangan
|
5
|
Lama LDR
|
1 tahun - sekarang
|
7 bulan - sekarang
|
9 bulan - sekarang
|
2 bulan - sekarang
|
6
|
Lama berpacaran sebelum LDR
|
1 tahun
|
2 bulan
|
3 bulan
|
Langsung LDR (Long distance relationship)
|
7
|
Pasangan
|
Pacar ketiga
|
Pacar keempat
|
Pacar kelima
|
Pacar ketiga
|
8
|
Tujuan self
disclosure
|
Agar pasangan lebih mengenal diri subjek penelitian
|
Agar pasangan lebih mengenal subjek penelitian
|
Agar pasangan lebih mengenal subjek penelitian
|
Agar pasangan lebih mengenal subjek penelitian Mencari
solusi dari masalah yang ada
|
9
|
Media untuk self
disclosure
|
Media telepon
|
Media telepon
|
Media telepon
|
Media telepon
|
10
|
Media komunikasi sosial
|
Facebook
|
BBM
|
BBM
|
Line
|
4.2 Pembahasan
Berdasarkan
teori penetrasi sosial, pada tahap awal, hubungan dapat dikatakan mempunyai
keluasan yang sempit dan kedalaman yang dangkal. Begitu hubungan bergerak
menuju keintiman, kita dapat mengharapkan lebih luasnya topik yang didiskusikan
dengan beberapa topik yang mulai lebih mendalam. Ketika informan merefleksikan
topik mengenai pembukaan diri, informan itu harus berhati-hati dalam
menggunakan pembukaan diri. Meskipun pembukaan diri secara umum dapat
menggerakkan suatu hubungan menuju kedekatan, membuka terlalu banyak pada awal
hubungan mungkin malah akan menyebabkan hubungan itu berakhir.
Bagi
keempat informan, ukuran sebuah hal mengandung tingkat privacy yang cukup
tinggi yaitu ketika topik tersebut jarang atau tidak pernah mereka ungkapkan ke
orang-orang yang dikenalnya. Dimana pada saat mereka sudah merasa sangat dekat,
pembicaraan yang terjadi di antara mereka dan pasangan pun menjadi lebih dalam,
ketika membahas satu topik pembicaraan tertentu. Mereka juga mengatakan bahwa
pengungkapan-pengungkapan yang mereka lakukan setelah mereka merasa dekat dengan
pasangan mereka, yaitu pengungkapan diri yang lebih mengeksplorasi
perasaan-perasaan dan opini-opini terdalam mereka.Pengungkapan diri perlu
dilakukan apabila telah tercipta sebuah hubungan yang memiliki tingkat
keintiman dan kepercayaan yang cukup.
Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa keempat informan cenderung
mengungkapkan topik mengenai masalah keluarga. Mereka juga berpendapat bahwa
topik ini adalah salah satu topik yang sensitif dan hanya mereka bahas dengan
orang-orang terdekat saja. Tetapi topik ini juga bukan hal yang memiliki resiko
yang besar apabila diungkapkan kepada pasangan mereka, sehingga keempat
informan merasa lebih aman untuk mengungkapkan topik keluarga kepada pasangan
mereka.
dalam
hubungan A.Fpengungkapan diri yang terjadi berjalan satu arah. F.A yang
merupakan pasangan dari A.F menjadi pihak yang mendominasi di dalam hubungan
tersebut. Sedangkan A.F sendiri jarang melakukan pengungkapan diri terhadap
pasangannya. Di dalam menjalin hubungan, F.A juga tidak memaksa A.F untuk
mengungkapkan diri sehingga tingkatkesukaan seperti yang telah dibahas di atas
belum dapat dipastikan akan berkurang. Maka kelanjutan dari hubungan mereka
berdua juga belum dapat dipredikasi apakah akan mengalami kemajuan ataupun
kemunduran.
Selain
itu, dapat dilihat pola komunikasi yang terjadi dalam komunikasi mahasiswa/i
yang diteliti dalam menjalin hubungan dengan pasangannya. Bila dibandingkan
dengan teori penetrasi sosial, polanya sama dimana di awal perkenalan mereka
membicarakan topik yang bersifat umum, seperti pendidikan, tempat tinggal, hobi
atau minat, kegemaran dan sebagainya. Sedangkan di tingkat kedalaman teori
penetrasi sosial, pembicaraan yang terjadi antara pasangan ini biasanya
melibatkan satu topik tertentu dan kemudian mereka membahasnya dengan sangat
dalam termasuk dengan memberikan opini atau pendapat, diskusi, perdebatan dan
sebagainya, sehingga dapat dilihat bahwa level depth atau level kedalaman
sebuah pengungkapan diri terjadi dalam komunikasi yang terjadi setelah diawali
dengan level breath (level keluasan).
Ketika
awal perkenalan keempat informan dengan pasangannya, masing-masing dari mereka
menyembunyikan hal-hal yang bersifat pribadi, dimana hal tersebut dapat berupa
pengalaman hidup, cerita masa lalu, cara menjalankan keyakinan, keuangan,
penyakit yang diderita, pandangan hidup, opini-opini dan hasrat-hasrat pribadi,
dan sebagainya. Ketika masing-masing dari mereka belum mengungkapkan hal
tersebut kepada pasangannya, berarti informasi-informasi pribadi tersebut masih
berada di kuadran atau wilayah C dari teori johari window yaitu wilayah
tersembunyi (Hidden area). Didalam
kuadran C yaitu daerah tersembunyi atau hidden area bermuatan semua informasi
yang diri sendiri tahu tetapi pasangan tidak mengetahui informasi tersebut.
Informasi rahasia dapat diketahui oleh Dari keempat informan tiga diantaranya
yaitu F.A, U.M dan A.R cenderung lebih menyukai telepon sebagai media untuk
mengungkapkan diri kepada pasangannya. Ketiganya menyatakan bahwa dengan
menggunakan media telepon mereka dapat lebih bebas dalam mengekspresikan diri.
Meskipun komunikasi melalui telepon ini tidak melalui tatap muka secara
langsung namun bisa dikategorikan sebagai komunikasi interpersonal karena
bersifat spontan, informasi yang disampaikan melalui telepon bisa bersifat
pribadi, arus pesan cenderung dua arah dan tingkat umpan balik yang terjadi
tinggi. Ketiga informan juga berpendapat bahwa dengan menggunakan media
telepon, umpan balik yang mereka dapatkan dari pasangan dapat lebih cepat
dirasakan, sehingga komunikasi yang terjadi lebih intens dan berkualitas.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Topik-topik
self disclosure yang dibahas oleh mahasiswa/i yang menjalani LDR (Long Distance
Relationship) di jurusan ilmu komunikasi UIN Alauddin adalah masalahkeluarga,
pandangan hidup, kebiasaan buruk, kepercayaan dan pengalaman masa lalu. Dari
keempat informan yang diteliti, peneliti menemukan bahwa tiga diantaranya yaitu
M.I, U.M dan A.R melakukan pengungkapan diri (self disclosure) terhadap
pasangannya sedangkan F.A, belum bisa melakukan pengungkapan diri terhadap
pasangannya.
Tahapan-tahapan
perkembangan hubungan hubungan mahasiswa/i yang menjalani LDR (Long Distance
Relationship) sesuai dengan tahapan proses penetrasi sosial yaitu tahap
orientasi, pertukaran penjajakan efektif, pertukaran afektif dan pertukaran
stabil. Peneliti menemukan bahwa informan U.M dan A.R sudah mencapai tahap
pertukaran stabil sedangkan informan F.A masih berada pada tahap pertukaran
penjajakan afektif, sedangkan informan M.I sesuai dengan lima tahapan
pengembangan hubungan menurut DeVito mengalami perusakan dan pemutusan.
Dari
keempat informan yang diteliti, peneliti menemukan bahwa tiga diantaranya yaitu
F.A, U.M dan A.R tidak nyaman melakukan pengungkapan diri (self disclosure)
terhadap pasangannya melalui media komunikasi sosial. Ketiganya lebih memilih
media telepon untuk melakukan pengungkapan diri kepada pasangan mereka.
Sedangkan satu informan yaitu M.I. merasa lebih nyaman untuk melakukan
pengungkapan diri kepada pasangannya melalui media komunikasi sosial. Selain
itu peneliti juga menemukan bahwa tiga orang informan yaitu M.I, U.M dan A.R
lebihmenyukai media komunikasi sosial yang berbentuk Line dan BBM (Blackberry
Messanger) untuk melakukan pengungkapan diri kepada pasangannya karena bentuk
dari media komunikasi sosial ini yang menyerupai komunikasi secara langsung dan
feedback yang dapat cepat diterima. Sedangkan A.F lebih memilih media
komunikasi facebook untuk melakukan pengungkapan diri terhadap pasangannya
karena media tersebut dianggap lebih menyenangkan.
5.2 Saran
Dalam
penelitian ini secara akademik, diharapkan di masa mendatang, dapat dijadikan
bahan pertimbangan untuk dijadikan guna memperkaya wacana Ilmu Komunikasi
terutama dalam mengkaji proses komunikasi untuk memelihara hubungan berpacaran
di mana pada pasangan jarak jauh haruslah efektif. Dapat dipahami oleh pihak
yang terkait untuk pemeliharaan hubungan yang baik.
Untuk
para pasangan yang sedang menjalin pacaran jarak jauh, dengan adanya penelitian
ini berharap dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi mereka. Agar terjadi
proses komunikasi timbal balik yang efektif antara keduanya khususnya selama
pemisahan secara geografis.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad idrus. (2010), Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan
Kualitatif dan Kuantitatif . Jakarta:Erlangga
Prof. Dr. M. Budyatna, M.A., Dr.
Leila Mon (2009). Teori Komunikasi Antarpribadi. Bandung : Prenada Media
Pawito. (2007). Penelitian komunikasi kualitatif.
Yogyakarta: LkIS Pelangi
Aksara.
https://danz4141n.wordpress.com/communication-theory/self-disclosure-theory/

