Wednesday, 13 April 2016

penelitian komunikasi



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Hubungan Pacaran Jarak Jauh (Long distance Relationship)Adalahsuatu hubungan di mana kesempatan untuk berkomunikasi sangatlah terbatas yang dimaknai oleh individual masing-masing yang disebabkan oleh kondisi geografis tetapi individu di dalamnya mempunyai keinginan untuk menjalankan hubungan dekat yang terus continue.
Media merupakan kata yang berasal dari Bahasa latin yang adalah bentuk jamak dari medium. Namun secara harfiah media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar. Secara umum media berarti sesuatu yang mampu mengantarkan informasi atau pesan dari sumber pesan atau informasi kepada si penerima pesan.(http://komunikasi.us/index.php/course/perkembangan-teknologi-komunikasi/1217-2014-04-27-06-53-50)
New media merupakan media yang dapat meningkatkan interaksi sosial antar manusia contohnya melalui beberapa jejaring sosial namun tetap sesuai kaidah dan norma kesopan santunan Media baru yang saat ini sedang populer adalah handphone atau smartphone.       
Zaman sekarang, bagi sebagian besar masyarakat handphone adalah suatu kebutuhan yang sangat penting bahkan sangat diperlukan. karena semakin berkembangnya teknologi handphone tidak hanya digunakan untuk media komunikasi saja seperti sms atau telpon saja. Sekarang banyak handphone yang menyediakan fitur-fitur untuk browsing,chatting dan lain-lain. New Media merupakan perkembangan baru dari media-media yang telah digunakan manusia. Karakternya yang merupakan bentuk digital tentu memudahkan dalam bertukar informasi dan berbagai kegiatan lainnya.(http://www.it-jurnal.com/2015/04/definisi-dan-manfaat-new-media.html)
Social media (media sosial) merupakan media online yang sangat populer saat ini. Salah satu bentuk hubungan yang menggunakan media komunikasi sosial sebagai media komunikasinya adalah pacaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ketiga.2002:807) Pacar adalah kekasih atau orang yang dicintai atau orang yang dikasihi (Kamisa, 1997). Pacaran adalah hubungan pertemanan antar lawan jenis yang diwarnai keintiman. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan sebagai pacar (Mulamawitri, 2003).
Melalui pola komunikasi sosial lewat media, setiap orang yang terlibat di dalamnya merasa sudah saling mengenal.Kedekatan itu seringkali hanya dibangun melaluibahasa verbal tertulis yang intens.selain sebagai tempat mencurahkan isi hati juga menjadi sarana pengembangan hubungan dalam menjalin relasi yang lebih intim. Komunikasi antarpribadi yang sebelumnya merupakan komunikasi tatap muka secara langsung, kini dapat dimediasi oleh alat, sehingga seseorang tidak harus selalu bertatap muka dengan lawan bicaranya pada saat berkomunikasi. “Keadaan dimana segala bentuk komunikasi dan perilaku manusia dapat diubah dengan cara saling bertukar informasi melalui ini disebut Computer Mediated Communication (CMC)” (Wood, 2005: 227).
1.2. Rumusan Masalah
Hadirnya media baru telah membangkitkan kebutuhan dasar manusia untuk dapat bersosialisasi dan terhubung dengan orang-orang terkasih tanpa di batasi ruang dan waktu. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti ingin mengetahui bagaimana self disclosure yang diungkapkan pasangan mahasiswa/i, di mana dalam hal ini peneliti memfokuskan penelitian terhadap mahasiswa/i yang sedang menjalin hubungan pacaran jarak jauh ataupun pernah menjalin hubungan pacaran jarak jauh dan menggunakan media komunikasi sebagai perangkat komunikasinya. Dan Bagaimanakah self disclosure (pengungkapan diri) pacaran jarak jauh melalui media komunikasi Pada Mahasiswa/i di Jurusan ilmu komunikasi FDK UIN Alauddin?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori-teori
1. Komunikasi
Carl I. Hovland (Mulyana, 2007:68) mendefinisikan komunikasi adalahproses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambangverbal) untuk mengubah prilaku orang lain (komunikate). Sebuah defenisi yang dibuat oleh kelompok sarjana komunikasi (Book, 1980) yang mengkhususkan diri pada studi komunikasi antar manusia (human communication) bahwa: “Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (1) membangun hubungan antar sesama manusia; (2) melalui pertukaran informasi; (3) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain; serta (4) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku (Cangara, 2007:19).
Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif, para peminat komunikasi sering mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold D. Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell mengatakan bahwa cara yang baikuntuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “Siapa yangmenyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa dan apapengaruhnya”.Paradigma Lasswel di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni :
1. Komunikator (communicator, sender, source)
2. Pesan (message)
3. Media (channel, media)
4. Komunikan (communicant, communicate, receiver, recipient)
5. Efek (effect, impact, influence)
Berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah prosespenyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yangmenimbulkan efek tertentu (Effendy, 2007:10).
2. Komunikasi Interpersonal
Komunikasi Interpersonal  adalah interaksi orang ke orang, dua arah, verbal dan non verbal. Saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil (Febrina, 2008). terjadinya suatu proses komunikasi. Dia yang harus mengetahui lebih awal tentang kesiapan dirinya, pesan yang ingin disampaikan, media yang digunakan, hambatan yang mungkin ditemui, serta khalayak yang akan menerima pesan (Cangara, 2007:85). Hal tersebut hanya akan tercapai dengan cara membuka diri.Membuka diri berarti mengkomunikasikan informasi tentang diri sendiri kepada orang lain (Devito, 2010:65). Salah satu model inovatif untuk memahami tingkat kesadaran dan penyingkapan diri dalam komunikasi insani adalah Jendela Johari oleh Joseph Luft (1969) yang menekankan bahwa setiap orang bisa mengetahui dan tidak mengetahui tentang dirinya, maupun orang lain. Untuk hal seperti itu dapat dikelompokkan ke dalam empat macam bidang pengenalan yang ditunjukkan dalam suatu gambar yang disebut dengan jendela johari (Johari Window).
Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Effendy,2003, p. 30).
3. Self Disclosure (pengungkapan diri)
Komunikasi yang dilakukan tanpa mengena sasaran, maka yang akan disalahkan adalah komunikatornya. Komunikator adalah pengambil inisatif
Dalam suatu interaksi antara individu dengan orang lain, apakah orang lain akan menerima atau menolak, bagaimana mereka ingin orang lain mengetahui tentang mereka akan ditentukan oleh bagaimana individu dalam mengungkapkan dirinya. Pengungkapan diri (self-disclosure) adalah proses menghadirkan diri yang diwujudkan dalam kegiatan membagi perasaan dan informasi dengan orang lain (Wrightsman, 1987).
terjadinya suatu proses komunikasi. Dia yang harus mengetahui lebih awal tentang kesiapan dirinya, pesan yang ingin disampaikan, media yang digunakan, hambatan yang mungkin ditemui, serta khalayak yang akan menerima pesan (Cangara, 2007:85). Hal tersebut hanya akan tercapai dengan cara membuka diri.
Membuka diri berarti mengkomunikasikan informasi tentang diri sendiri kepada orang lain (Devito, 2010:65). Salah satu model inovatif untuk memahami tingkat kesadaran dan penyingkapan diri dalam komunikasi insani adalah Jendela Johari oleh Joseph Luft (1969) yang menekankan bahwa setiap orang bisa mengetahui dan tidak mengetahui tentang dirinya, maupun orang lain. Untuk hal seperti itu dapat dikelompokkan ke dalam empat macam bidang pengenalan yang ditunjukkan dalam suatu gambar yang disebut dengan jendela johari (Johari Window).
          Di ketahui diri sendiri    Tidak diketahui diri sendiri
Diketahui orang lain

Tidak diketahui orang lain

Asumsi Johari bahwa kalau setiap individu bisa memahami diri sendiri maka dia bisa mengendalikan sikap dan tingkah lakunya di saat berhubungan dengan orang lain.
Kuadran 1, melukiskan suatu kondisi dimana antara seorang dengan yang lain mengembangkan suatu hubungan terbuka sehingga dua pihak saling mengetahui masalah tentang hubungan mereka.
Kuadran 2, melukiskan bidang buta, masalah hubungan antara kedua pihak hanya diketahui orang lain namun tidak diketahui oleh diri sendiri.
Kuadran 3, disebut bidang tersembunyi, yakni masalah hubungan antara kedua pihak diketahui diri sendiri namun tidak diketahui orang lain.
Kuadran 4, bidang tidak dikenal, dimana kedua pihak sama-sama tidak mengetahui masalah hubungan di antara mereka.
Ada berbagai keuntungan dalam melakukan sel-disclosure. Keuntungan dari Self-Disclosureadalah:
1. Pemahaman tentang diri, salah satu keuntungan dari self-disclosure adalah mendapatkan perspektif yang baru tentang diri, sebuah pemahaman yang dalam tentang diri.
2. Komunikasi dan Hubungan yang efektif, memahami pesan orang lain secara lebih luas dapat melebarkan pemahaman tentang orang lain, self-disclosure adalah suatu keadaan untuk saling memahami.
3. Kesehatan Psikologi, dengan melakukan self-disclosureberarti belajar bagaimana berbagi informasi dengan orang lain tentang berbagai permasalahan dan bagaimana untuk mengatasi masalah tersebut (Devito, 2007:68).
4. Teori Penetrasi Sosial
Teori penetrasi sosial secara umum membahas tentang bagaimana proses komunikasi interpersonal. Di sini dijelaskan bagaimana dalam proses berhubungan dengan orang lain, terjadi berbagai proses gradual, di mana terjadi semacam proses adaptasi di antara keduanya, atau dalam bahasa Altman dan Taylor: penetrasi sosial.
Altman dan Taylor (1973) membahas tentang bagaimana perkembangan kedekatan dalam suatu hubungan. Menurut mereka, pada dasarnya kita akan mampu untuk berdekatan dengan seseorang yang lain sejauh kita mampu melalui proses “gradual and orderly fashion from superficial to intimate levels of exchange as a function of both immediate and forecast outcomes.”
Menurut Altman dan Taylor (dalam Liliweri, 1991: 55) teori penetrasi sosial adalah teori yang menyatakan bahwa hubungan antarpribadi telah terjadi suatu penyusupan sosial. Ketika kita baru berkenalan dengan orang lain untuk pertama kalinya maka sebenarnya kita mulai dengan suatu ketidakakraban, kemudian dalam proses yang terus menerus berubah menjadi lebih akrab sehingga pengembangan hubungan mulai terjadi. Dari sinilah setiap orang mulai menghitung apa yang bisa diterima atas keuntungan apa yang akan diperoleh.
2.2 Kerangka Fikir
Muhammad idrus dalam buku Metode Penelitian Ilmu Sosial (2007) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifkasikan sebaga masalah penting. Kerangka berfikir penelitian ditunjukkan pada gambar berikut:











Rounded Rectangle: Teori Penetrasi Sosial





 








Add caption




III. METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Perubahan
                        Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptifdimana peneliti akan memberikan pemaparan atau gambaran umum mengenai bagaimana self disclosure yang terjadi pada romance online, yaitu komunikasi antarpribadi sebuah pasangan melalui media komunikasi.
3.2 Objek dan Lokasi Penelitian
            Objek penelitian dalam penelitian ini adalah self disclosure yang diungkapkan melalui media komunikasi.
            Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Ada dua tahap pengumpulan data dalam penelitian ini, diantaranya adalah :
1. In depth Interview (Wawancara mendalam)
Yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan percakapan/perbincangan secara mendalam dengan responden. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi sedalam - dalamnya dan informan sebagai objek yang diwawancarai dan tentu saja informan yang sebagai subjek penelitian haruslah yang menguasai masalah penelitian/kejadian.
2. Observasi (pengamatan)
Melakukan pengamatan pada saat kejadian, tingkah laku informan, tindakan tindakan orang serta komunikasi yang terjadi.
3.4 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan triangulasi data dan teori. Kemudian dengan menggunakan teknik analisis data selama di lapangan.
model Miles and Huberman, peneliti menganalisis data dengan langkah-langkah sebagai berikut (Idrus,2007):
1. Peneliti melakukan reduksi data.
2. Melakukan penyajian data.
3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Peneliti memulai pencarian informan di kalangan teman terdekat  peneliti yang menjalani pacaran jarak jauh (LDR). Dalam penelitian ini, informan yang berperan sebagai subjek penelitian, terdiri dari dua orang perempuan dan dua orang laki-laki. Informan adalah mahasiswa dan mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi FDK UIN Alauddin. Berikut data hasil wawancara peneliti dengan keempat informan:
4.1.1 Tabel Profil Informan
No
Keterangan
M.I
F.A
U.M
A.R
1
Tempat tanggal lahir
Makassar, 22 Februari 1995
Pinrang, 5 September 1994
Takalar, 12 Juli 1995
Palopo, 18 Desember 1995
2
Jenis kelamin
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
3
Pekerjaan orang tua
Ayah : Pegawai negeri sipil
Ibu : Ibu rumah tangga
Ayah : Pegawai negeri sipil
Ibu : Pekerja swasta
Ayah : Pegawai negeri sipil
Ibu : Ibu rumah tangga
Ayah : Pekerja swasta
Ibu : pekerja swasta
4
Alamat
Jl. Rajawali no.54 B
Jl. Sultan alauddin gowa
BTN. Minasa Upa blok M no 21
Jl. Talasalapang no 22
5
Awal mengenal media komunikasi social
2007
2007
7008
2009
6
Agama
Islam
Islam
Islam
Islam

4.1.2 Tabel Self Disclosure (Pengungkapan diri) Individu Terhadap Pasangan Melalui Media Komunikasi
No
Keterangan
M.I
F.A
U.M
A.R
1
Pengungkapan pada awal perkenalan
identitas diri, hobi, dan kegiatan sehari-hari
Tidak mengungkapkan hal-hal umum.
identitas diri, hobi, dan kegiatan sehari-hari
identitas diri, hobi, dan kegiatan sehari-hari
2
Topik self disclosure
Masalah keluarga, kebiasaan buruk
Masalah keluarga, pandangan hidup
Masalah keluarga, pandangan hidup, kebiasaan buruk dan kepercayaan
Masalah keluarga, pengalaman masa lalu.
3
Tahapan-tahapan pengungkapan diri
Terjadi secara alami dan spontan
Terjadi secara alami dan spontan
Terjadi secara alami dan spontan
Terjadi secara alami dan spontan
4
Individu yang dominan
Pasangan
Pasangan
 Informan dan pasangan
Informan dan pasangan
5
Lama LDR
1 tahun - sekarang
7 bulan - sekarang
9 bulan - sekarang
2 bulan - sekarang
6
Lama berpacaran sebelum LDR
1 tahun
2 bulan
3 bulan
Langsung LDR (Long distance relationship)
7
Pasangan
Pacar ketiga
Pacar keempat
Pacar kelima
Pacar ketiga
8
Tujuan self disclosure
Agar pasangan lebih mengenal diri subjek penelitian
Agar pasangan lebih mengenal subjek penelitian
Agar pasangan lebih mengenal subjek penelitian
Agar pasangan lebih mengenal subjek penelitian Mencari solusi dari masalah yang ada
9
Media untuk self disclosure
Media telepon
Media telepon
Media telepon
Media telepon
10
Media komunikasi sosial
Facebook
BBM
BBM
Line

4.2 Pembahasan
Berdasarkan teori penetrasi sosial, pada tahap awal, hubungan dapat dikatakan mempunyai keluasan yang sempit dan kedalaman yang dangkal. Begitu hubungan bergerak menuju keintiman, kita dapat mengharapkan lebih luasnya topik yang didiskusikan dengan beberapa topik yang mulai lebih mendalam. Ketika informan merefleksikan topik mengenai pembukaan diri, informan itu harus berhati-hati dalam menggunakan pembukaan diri. Meskipun pembukaan diri secara umum dapat menggerakkan suatu hubungan menuju kedekatan, membuka terlalu banyak pada awal hubungan mungkin malah akan menyebabkan hubungan itu berakhir.
Bagi keempat informan, ukuran sebuah hal mengandung tingkat privacy yang cukup tinggi yaitu ketika topik tersebut jarang atau tidak pernah mereka ungkapkan ke orang-orang yang dikenalnya. Dimana pada saat mereka sudah merasa sangat dekat, pembicaraan yang terjadi di antara mereka dan pasangan pun menjadi lebih dalam, ketika membahas satu topik pembicaraan tertentu. Mereka juga mengatakan bahwa pengungkapan-pengungkapan yang mereka lakukan setelah mereka merasa dekat dengan pasangan mereka, yaitu pengungkapan diri yang lebih mengeksplorasi perasaan-perasaan dan opini-opini terdalam mereka.Pengungkapan diri perlu dilakukan apabila telah tercipta sebuah hubungan yang memiliki tingkat keintiman dan kepercayaan yang cukup.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa keempat informan cenderung mengungkapkan topik mengenai masalah keluarga. Mereka juga berpendapat bahwa topik ini adalah salah satu topik yang sensitif dan hanya mereka bahas dengan orang-orang terdekat saja. Tetapi topik ini juga bukan hal yang memiliki resiko yang besar apabila diungkapkan kepada pasangan mereka, sehingga keempat informan merasa lebih aman untuk mengungkapkan topik keluarga kepada pasangan mereka.
dalam hubungan A.Fpengungkapan diri yang terjadi berjalan satu arah. F.A yang merupakan pasangan dari A.F menjadi pihak yang mendominasi di dalam hubungan tersebut. Sedangkan A.F sendiri jarang melakukan pengungkapan diri terhadap pasangannya. Di dalam menjalin hubungan, F.A juga tidak memaksa A.F untuk mengungkapkan diri sehingga tingkatkesukaan seperti yang telah dibahas di atas belum dapat dipastikan akan berkurang. Maka kelanjutan dari hubungan mereka berdua juga belum dapat dipredikasi apakah akan mengalami kemajuan ataupun kemunduran.
Selain itu, dapat dilihat pola komunikasi yang terjadi dalam komunikasi mahasiswa/i yang diteliti dalam menjalin hubungan dengan pasangannya. Bila dibandingkan dengan teori penetrasi sosial, polanya sama dimana di awal perkenalan mereka membicarakan topik yang bersifat umum, seperti pendidikan, tempat tinggal, hobi atau minat, kegemaran dan sebagainya. Sedangkan di tingkat kedalaman teori penetrasi sosial, pembicaraan yang terjadi antara pasangan ini biasanya melibatkan satu topik tertentu dan kemudian mereka membahasnya dengan sangat dalam termasuk dengan memberikan opini atau pendapat, diskusi, perdebatan dan sebagainya, sehingga dapat dilihat bahwa level depth atau level kedalaman sebuah pengungkapan diri terjadi dalam komunikasi yang terjadi setelah diawali dengan level breath (level keluasan).
Ketika awal perkenalan keempat informan dengan pasangannya, masing-masing dari mereka menyembunyikan hal-hal yang bersifat pribadi, dimana hal tersebut dapat berupa pengalaman hidup, cerita masa lalu, cara menjalankan keyakinan, keuangan, penyakit yang diderita, pandangan hidup, opini-opini dan hasrat-hasrat pribadi, dan sebagainya. Ketika masing-masing dari mereka belum mengungkapkan hal tersebut kepada pasangannya, berarti informasi-informasi pribadi tersebut masih berada di kuadran atau wilayah C dari teori johari window yaitu wilayah tersembunyi (Hidden area). Didalam kuadran C yaitu daerah tersembunyi atau hidden area bermuatan semua informasi yang diri sendiri tahu tetapi pasangan tidak mengetahui informasi tersebut. Informasi rahasia dapat diketahui oleh Dari keempat informan tiga diantaranya yaitu F.A, U.M dan A.R cenderung lebih menyukai telepon sebagai media untuk mengungkapkan diri kepada pasangannya. Ketiganya menyatakan bahwa dengan menggunakan media telepon mereka dapat lebih bebas dalam mengekspresikan diri. Meskipun komunikasi melalui telepon ini tidak melalui tatap muka secara langsung namun bisa dikategorikan sebagai komunikasi interpersonal karena bersifat spontan, informasi yang disampaikan melalui telepon bisa bersifat pribadi, arus pesan cenderung dua arah dan tingkat umpan balik yang terjadi tinggi. Ketiga informan juga berpendapat bahwa dengan menggunakan media telepon, umpan balik yang mereka dapatkan dari pasangan dapat lebih cepat dirasakan, sehingga komunikasi yang terjadi lebih intens dan berkualitas.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Topik-topik self disclosure yang dibahas oleh mahasiswa/i yang menjalani LDR (Long Distance Relationship) di jurusan ilmu komunikasi UIN Alauddin adalah masalahkeluarga, pandangan hidup, kebiasaan buruk, kepercayaan dan pengalaman masa lalu. Dari keempat informan yang diteliti, peneliti menemukan bahwa tiga diantaranya yaitu M.I, U.M dan A.R melakukan pengungkapan diri (self disclosure) terhadap pasangannya sedangkan F.A, belum bisa melakukan pengungkapan diri terhadap pasangannya.
Tahapan-tahapan perkembangan hubungan hubungan mahasiswa/i yang menjalani LDR (Long Distance Relationship) sesuai dengan tahapan proses penetrasi sosial yaitu tahap orientasi, pertukaran penjajakan efektif, pertukaran afektif dan pertukaran stabil. Peneliti menemukan bahwa informan U.M dan A.R sudah mencapai tahap pertukaran stabil sedangkan informan F.A masih berada pada tahap pertukaran penjajakan afektif, sedangkan informan M.I sesuai dengan lima tahapan pengembangan hubungan menurut DeVito mengalami perusakan dan pemutusan.
Dari keempat informan yang diteliti, peneliti menemukan bahwa tiga diantaranya yaitu F.A, U.M dan A.R tidak nyaman melakukan pengungkapan diri (self disclosure) terhadap pasangannya melalui media komunikasi sosial. Ketiganya lebih memilih media telepon untuk melakukan pengungkapan diri kepada pasangan mereka. Sedangkan satu informan yaitu M.I. merasa lebih nyaman untuk melakukan pengungkapan diri kepada pasangannya melalui media komunikasi sosial. Selain itu peneliti juga menemukan bahwa tiga orang informan yaitu M.I, U.M dan A.R lebihmenyukai media komunikasi sosial yang berbentuk Line dan BBM (Blackberry Messanger) untuk melakukan pengungkapan diri kepada pasangannya karena bentuk dari media komunikasi sosial ini yang menyerupai komunikasi secara langsung dan feedback yang dapat cepat diterima. Sedangkan A.F lebih memilih media komunikasi facebook untuk melakukan pengungkapan diri terhadap pasangannya karena media tersebut dianggap lebih menyenangkan.


5.2 Saran
Dalam penelitian ini secara akademik, diharapkan di masa mendatang, dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk dijadikan guna memperkaya wacana Ilmu Komunikasi terutama dalam mengkaji proses komunikasi untuk memelihara hubungan berpacaran di mana pada pasangan jarak jauh haruslah efektif. Dapat dipahami oleh pihak yang terkait untuk pemeliharaan hubungan yang baik.
Untuk para pasangan yang sedang menjalin pacaran jarak jauh, dengan adanya penelitian ini berharap dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi mereka. Agar terjadi proses komunikasi timbal balik yang efektif antara keduanya khususnya selama pemisahan secara geografis.

DAFTAR PUSTAKA
Muhammad idrus. (2010), Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif . Jakarta:Erlangga
Prof. Dr. M. Budyatna, M.A., Dr. Leila Mon (2009). Teori Komunikasi Antarpribadi. Bandung : Prenada Media
Pawito. (2007). Penelitian komunikasi kualitatif. Yogyakarta: LkIS Pelangi
Aksara.
https://danz4141n.wordpress.com/communication-theory/self-disclosure-theory/